Category: Panduan

  • BYD Siapkan Shark 6 Versi Listrik dan Pikap Penantang Ford F-150

    BYD Siapkan Shark 6 Versi Listrik dan Pikap Penantang Ford F-150

    Pabrikan otomotif asal Tiongkok, BYD, tengah menyiapkan pengembangan lanjutan untuk lini pikap Shark, termasuk versi listrik dan model berukuran besar.

    Meski rencana tersebut sudah mulai dibicarakan, realisasinya diperkirakan masih membutuhkan waktu.

    Rencana Hadirkan Versi Listrik

    BYD mengungkapkan adanya minat dari pasar terhadap Shark 6 versi listrik murni.

    Permintaan tersebut datang dari berbagai sektor, termasuk industri yang membutuhkan kendaraan tanpa emisi di area operasional tertentu.

    Sejauh ini, Shark 6 yang tersedia masih mengandalkan teknologi plug-in hybrid.

    Pengembangan Pikap Ukuran Besar

    Selain versi listrik, BYD juga mempertimbangkan menghadirkan pikap berukuran lebih besar.

    Model ini disebut akan menyasar segmen kendaraan besar seperti yang selama ini diisi oleh produsen Amerika.

    Ukuran kendaraan tersebut diproyeksikan mendekati pikap full-size yang populer di pasar global.

    Masih Fokus pada Model Saat Ini

    Meski ada rencana ekspansi, BYD saat ini masih memprioritaskan pengembangan Shark 6 yang sudah ada.

    Beberapa varian baru tengah disiapkan, termasuk peningkatan performa dan konfigurasi mesin.

    Langkah ini dilakukan sambil mempelajari kebutuhan pasar sebelum meluncurkan model baru.

    Permintaan Pasar Jadi Pertimbangan

    Pengembangan kendaraan baru disebut sangat bergantung pada respons konsumen.

    BYD mengumpulkan masukan dari berbagai pasar untuk menentukan arah pengembangan berikutnya.

    Minat terhadap kendaraan listrik di sektor tertentu turut mendorong munculnya rencana ini.

    Peluncuran Diperkirakan Masih Lama

    Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti terkait peluncuran Shark 6 versi listrik maupun pikap ukuran besar.

    Kedua model tersebut diperkirakan baru akan hadir setidaknya dalam beberapa tahun ke depan.

    Pengembangan ini menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperluas jangkauan produk di segmen kendaraan komersial dan utilitas.

  • Modifikasi Yamaha Gear Ultima untuk Touring yang Stylish

    Modifikasi Yamaha Gear Ultima untuk Touring yang Stylish

    Yamaha Gear Ultima yang baru diluncurkan ternyata menarik perhatian untuk dimodifikasi. Modifikasi ini tidak hanya bertujuan untuk membuat skutik ini tampil unik, tetapi juga fungsional untuk penggunaan sehari-hari, terutama untuk touring ringan.

    Salah satu contoh modifikasi yang menarik adalah hasil garapan Atenx Katros dari Katros Garage. Atenx menciptakan desain yang tidak hanya fokus pada fungsionalitas, tetapi juga mencerminkan gaya hidup keluarga muda Indonesia.

    Atenx menjelaskan bahwa keluarga muda di Indonesia memiliki gaya hidup yang unik. Meskipun sudah berkeluarga, mereka tetap ingin mengikuti tren dan fleksibel dalam bergaul. “Kami mencoba menciptakan desain modifikasi dengan mengadopsi konsep Outdoor Culture yang terkenal luwes dan fleksibel, sesuai dengan karakter anak muda zaman sekarang,” ujarnya dalam keterangan resmi.

    Modifikasi ini menonjolkan sisi fungsional dan ketangguhan Yamaha Gear Ultima melalui berbagai komponen yang mendukung kenyamanan dan kebanggaan penggunanya. Konsep Outdoor Culture yang diusung mempertemukan semangat fashion dengan fitur-fitur unggulan dari motor ini.

    Dari segi tampilan, modifikasi ini menggunakan warna-warna netral yang dominan, dipadukan dengan desain grafis yang mencolok. Warna netral dipilih karena mudah dipadukan dengan warna lain, sehingga memberikan kesan yang lebih stylish.

    Atenx juga ingin menekankan bahwa modifikasi ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri bagi para pengguna Yamaha Gear Ultima. Inspirasi grafis diambil dari sepatu running legendaris dan fashion techwear, memberikan sentuhan modern pada motor ini.

    Fungsi fungsionalitas dalam modifikasi ini terlihat dari berbagai upgrade parts yang diterapkan, seperti sokbreker depan dan belakang yang ditingkatkan, jok yang di-custom menjadi lebih tebal dan empuk, serta tapak ban yang di-upsize. Selain itu, terdapat boks kecil pannier di bagian belakang dan emblem pada kids footstep.

    Dengan modifikasi suspensi, Atenx berusaha memaksimalkan kenyamanan dan performa handling Yamaha Gear Ultima, sehingga memberikan kualitas kendali yang lebih baik saat berkendara. Fitur kids footstep yang antiselip juga ditambahkan untuk meningkatkan keselamatan.

    Salah satu elemen mencolok dari modifikasi ini adalah boks aluminium di belakang, yang memungkinkan Gear Ultima digunakan untuk menjelajahi berbagai medan perjalanan.

    Menariknya, Atenx dan tim hanya menghabiskan anggaran sebesar Rp 5 juta untuk melakukan modifikasi ini, menjadikannya pilihan yang terjangkau bagi para penggemar motor yang ingin tampil beda dan fungsional. Modifikasi Yamaha Gear Ultima ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas, skutik ini bisa menjadi kendaraan yang stylish dan siap untuk petualangan.

     

  • SUV Listrik Toyota C-HR+ Siap Meluncur pada 2026

    SUV Listrik Toyota C-HR+ Siap Meluncur pada 2026

    Toyota mengumumkan rencana peluncuran versi listrik dari model C-HR yang akan diberi nama C-HR+ pada tahun 2026. SUV ini direncanakan untuk pasar Amerika Serikat dan akan berada di bawah model bZ4X dalam jajaran produk Toyota.

    Meskipun menggunakan nama C-HR, C-HR+ tidak berbagi platform dengan model SUV tersebut. Sebaliknya, mobil ini akan menggunakan platform TNGA 2.0 yang sama dengan bZ4X. Desain C-HR+ terlihat agresif dengan lampu utama yang menyipit, dan memiliki beberapa kesamaan desain dengan bZ4X.

    Toyota menyatakan bahwa C-HR+ lebih ditujukan untuk konsumen yang masih lajang atau pasangan muda, sementara bZ4X lebih difokuskan untuk keluarga. Mengingat biaya tinggi dalam mengembangkan mobil listrik dari awal, Toyota memilih untuk menggunakan powertrain yang serupa dengan bZ4X.

    C-HR+ akan dilengkapi dengan baterai berkapasitas 57,7 kWh dan motor listrik tunggal yang terpasang di roda depan. Tenaga yang dihasilkan mencapai 165 Tk, dengan jarak tempuh sekitar 455 km. Untuk akselerasi, C-HR+ dapat melaju dari 0 hingga 100 km/jam dalam waktu 8,6 detik.

    Toyota juga menawarkan versi yang lebih tinggi dengan kapasitas baterai 77 kWh. Tipe ini memiliki tenaga yang lebih besar, mencapai 221 Tk, namun jarak tempuhnya sedikit lebih pendek, yaitu 373 km, dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam 7,4 detik.

    Untuk tipe tertinggi, C-HR+ akan dilengkapi dengan sistem penggerak semua roda (AWD) dan baterai 77 kWh, menghasilkan tenaga maksimum 338 Tk, jarak tempuh 525 km, dan akselerasi 0-100 km/jam hanya dalam 5,2 detik.

    Hingga saat ini, belum ada informasi apakah C-HR+ akan dipasarkan di Indonesia. Saat ini, model bZ4X saja masih dijual dengan sistem spot order. Peluncuran C-HR+ diharapkan dapat menambah pilihan bagi konsumen yang mencari SUV listrik dengan desain yang menarik dan performa yang handal.

     

  • Super Cub C125 The Craftpiece: Perpaduan Elegan dan Klasik

    Super Cub C125 The Craftpiece: Perpaduan Elegan dan Klasik

    Honda baru saja meluncurkan edisi khusus dari Super Cub C125 di Thailand, yang diberi nama C125 The Craftpiece. Motor bebek legendaris ini hadir dengan sentuhan yang menonjolkan aura abadi.

    Dari informasi yang diperoleh melalui laman Facebook CUB House, C125 The Craftpiece mengusung kombinasi warna yang menarik, yaitu Ordinary White untuk bodi dan jok berwarna Artisan Red. Perpaduan ini memberikan kesan klasik sekaligus elegan.

    Desain bodi C125 tetap mempertahankan S-Shape Design yang ikonik, terinspirasi dari model yang pertama kali dirilis pada tahun 1958. Selain itu, ornamen krom yang menghiasi bagian cover knalpot dan dasi depan dengan logo C125 berwarna merah yang mencolok semakin menambah daya tariknya.

    Dari segi spesifikasi teknis, C125 The Craftpiece tidak mengalami perubahan. Motor ini masih menggunakan mesin 125cc dengan sistem injeksi dan pendinginan udara. Dengan demikian, perubahan yang ada lebih terfokus pada aspek estetika dan permainan warna.

    Di Indonesia, Super Cub C125 tersedia dalam tiga pilihan warna: Matte Axis Gray Metallic (abu dengan jok merah), Pearl Cadet Gray (abu kebiruan dengan putih dan jok coklat), serta Pearl Nebula Red (merah dan putih dengan jok coklat).

    Untuk harga, Super Cub C125 di Indonesia dibanderol sekitar Rp 77.665.000 OTR Jakarta. Model C125 The Craftpiece ini bisa menjadi pilihan menarik bagi para penggemar modifikasi yang menginginkan tampilan simpel namun tetap klasik.

     

  • MotoGP Argentina 2025: Marco Bezzecchi Siap Tantang Marc Marquez

    MotoGP Argentina 2025: Marco Bezzecchi Siap Tantang Marc Marquez

    Setelah menunjukkan dominasi yang mengesankan pada seri pembuka, Marc Marquez kembali diunggulkan menjelang balapan kedua MotoGP Argentina 2025. Sirkuit Termas de Rio Hondo di Santiago, Argentina, menjadi tempat di mana Marquez memiliki sejarah yang kuat, dengan tiga kemenangan sejak GP Argentina kembali ke kalender pada tahun 2014.

    Selama masa kejayaannya, Marquez dikenal sebagai pembalap yang sulit dikalahkan di sirkuit ini. Kemenangan terakhirnya di Argentina terjadi pada tahun 2019, sebelum ia terpaksa menghadapi cedera panjang dan krisis performa. Dalam beberapa kesempatan, kegagalannya meraih kemenangan disebabkan oleh kecelakaan setelah memimpin atau terkena penalti.

    Karakter sirkuit yang memiliki grip rendah mendukung kemampuan Marquez untuk beradaptasi dengan baik. Namun, tahun ini menjadi tantangan baru bagi semua pembalap, mengingat GP Argentina tidak diadakan tahun lalu. “Marc bermain-main dengan kami… dia jauh lebih cepat,” ungkap rekan setimnya, Francesco Bagnaia, setelah melihat performa Marquez yang tak tertandingi di balapan pertama.

    Kini, publik bertanya-tanya siapa yang bisa menandingi kecepatan Marquez. Di antara 21 pembalap lainnya, satu nama mencuat: Marco Bezzecchi. Bezzecchi, yang merupakan murid Valentino Rossi, telah mencatatkan dua kemenangan di GP Argentina, termasuk satu di kelas Moto2. Debutnya di MotoGP Argentina dua tahun lalu juga mengesankan, di mana ia berhasil finis di posisi kesembilan setelah memulai dari posisi belakang.

    Pada tahun 2023, Bezzecchi menunjukkan performa yang kuat dengan meraih posisi runner-up di balapan Sprint dan kemenangan di balapan GP. “Saya senang kembali ke Argentina, sebuah trek yang saya sukai,” kata Bezzecchi setelah seri GP Thailand. “Saya sudah tahu bahwa pada Senin malam nanti, saya akan merasa ingin pergi balapan lagi.”

    Musim ini, Bezzecchi bergabung dengan Aprilia Racing, yang memberinya modal lebih besar untuk bersaing di podium teratas. Aprilia telah menunjukkan performa yang kuat di Argentina dalam dua edisi terakhir, termasuk kemenangan pertama mereka di kelas MotoGP yang diraih oleh Aleix Espargaro pada tahun 2022.

    Meskipun Bezzecchi telah menemukan kenyamanan dengan motor Aprilia RS-GP, ia menyadari bahwa ia perlu meningkatkan kecepatan satu lap untuk mendapatkan posisi start yang lebih baik. Di GP Thailand, ia hanya mampu meraih posisi kesembilan dalam kualifikasi, yang bukan merupakan posisi ideal untuk bersaing dengan Marquez.

    “Sayang sekali dalam kecepatan satu lap saya masih belum bagus, dan itu adalah sesuatu yang perlu saya perbaiki,” ungkap Bezzecchi. “Motornya kompetitif, tetapi saya harus menerjemahkan RS-GP dengan lebih baik.”

    Seri MotoGP Argentina 2025 akan berlangsung pada 14-16 Maret 2025, dan semua mata akan tertuju pada bagaimana Bezzecchi dapat menantang Marquez di sirkuit yang menjadi favoritnya. Apakah Bezzecchi mampu mengulangi kesuksesannya dan menjadi lawan tangguh bagi Marquez? Kita tunggu aksi serunya di lintasan!

     

  • Tantangan Francesco Bagnaia di MotoGP 2025: Terjebak di Bayang-Bayang Marc Marquez

    Tantangan Francesco Bagnaia di MotoGP 2025: Terjebak di Bayang-Bayang Marc Marquez

    Musim MotoGP 2025 menjadi tantangan berat bagi Francesco Bagnaia, pembalap Ducati Lenovo, yang kini berada dalam posisi yang mengkhawatirkan. Meskipun memiliki potensi besar, Bagnaia belum mampu menunjukkan bahwa dirinya layak menjadi penantang serius untuk gelar juara dunia, terutama ketika harus bersaing dengan rekan setimnya, Marc Marquez.

    Pada seri pembuka di Sirkuit Buriram, Thailand, Bagnaia tidak mampu mengimbangi kecepatan Marquez. Meskipun berhasil naik podium, performanya di lintasan, baik dalam kualifikasi maupun balapan, menunjukkan bahwa ia masih jauh dari kata memuaskan. Marquez, yang merupakan pendatang baru di tim Ducati, berhasil mengalahkan Bagnaia dengan selisih waktu yang cukup signifikan—lebih dari dua detik di balapan Sprint dan lebih dari tiga detik di balapan utama.

    Kekhawatiran terhadap performa Bagnaia diungkapkan oleh mantan pembalap MotoGP, Sylvain Guintoli. Ia menilai bahwa meskipun Valentino Rossi berusaha membantu, dukungan tersebut mungkin tidak cukup untuk mengangkat performa Bagnaia. “Saya tidak tahu seberapa besar Valentino bisa membantunya,” kata Guintoli. “Pecco tahu apa yang harus dia lakukan dan sadar akan potensinya.”

    Marquez dikenal sebagai pembalap yang sulit dikejar di lintasan. Ia tidak hanya cepat, tetapi juga mampu menarik perhatian tim dan mekanik untuk bekerja keras demi kesuksesannya. Dalam hal ini, Marquez sering dibandingkan dengan Rossi, yang juga memiliki kemampuan serupa. Ancaman Marquez semakin nyata setelah ia menunjukkan kemampuan beradaptasi yang cepat dengan motor Ducati, baik saat mengendarai motor tim satelit musim lalu maupun motor tim pabrikan di musim ini.

    Guintoli menambahkan, “Dia tahu bahwa Marc, pada 2024, dengan motor yang inferior, mampu bertarung melawannya. Jika saya jadi dia (Bagnaia), saya akan khawatir.” Marquez pernah terlibat duel sengit dengan Bagnaia di MotoGP Spanyol, di mana keduanya saling berebut posisi terdepan. Namun, situasi kini berbeda, dan Bagnaia harus menghadapi Marquez yang berada dalam kondisi yang sama.

    “Dia tahu dia akan menghadapi tugas yang sulit. Sebagai pembalap, ini tentu saja merupakan situasi yang buruk,” ujar Guintoli. “Tidak menyenangkan memiliki Marc Marquez sebagai rekan setim, terutama karena dia bisa mendapatkan akses informasi yang sama dengan Anda.”

    Meski demikian, Guintoli tetap optimis bahwa Bagnaia belum menunjukkan seluruh kemampuannya. Ia mencatat bahwa Bagnaia sering kali membutuhkan waktu untuk menemukan performa terbaiknya, terutama saat balapan memasuki seri-seri Eropa. “Menurut saya, Bagnaia belum menunjukkan seluruh kemampuannya dan saya rasa tahun ini bisa menjadi tahun yang akan membuatnya bersinar,” ujarnya.

    Guintoli percaya bahwa tekanan yang dihadapi Bagnaia justru bisa membantunya berkembang. “Dia tahu betapa berbakatnya Marc, seberapa cepat dia, dan seberapa kuat mentalnya. Meskipun ini akan menjadi Kejuaraan Dunia yang sulit, saat tekanannya maksimal, ia akan berkembang,” pungkas Guintoli.

    Dengan tantangan yang ada, Bagnaia harus segera menemukan cara untuk bersaing dengan Marquez dan membuktikan bahwa ia layak menjadi salah satu kandidat kuat untuk gelar juara dunia di musim ini.

     

  • Jelang MotoGP Argentina 2025: Marc Marquez dan Kenangan Kemenangan Terakhir

    Jelang MotoGP Argentina 2025: Marc Marquez dan Kenangan Kemenangan Terakhir

    Marc Marquez, pembalap andalan Ducati, kembali menjadi sorotan menjelang seri kedua MotoGP Argentina 2025. Dengan rekam jejak yang mengesankan di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Marquez diprediksi akan menjadi pesaing tangguh di balapan mendatang.

    Sejak debutnya di GP Argentina pada tahun 2014, Marquez telah menunjukkan performa luar biasa. Dalam enam penampilannya, ia berhasil meraih tiga kemenangan pada tahun 2014, 2016, dan 2019, serta mencatatkan pole position sebanyak lima kali. Hanya pada tahun 2018 ia gagal meraih pole.

    Namun, perjalanan Marquez di Argentina tidak selalu mulus. Pada tahun 2015, ia sempat memimpin balapan sebelum Valentino Rossi berhasil mengejarnya berkat strategi ban yang cerdas. Dalam usaha menyalip, Marquez mengalami insiden yang membuatnya terjatuh dan tidak dapat menyelesaikan balapan.

    Musim 2017 juga menjadi tahun yang sulit bagi Marquez, ketika ia mengalami kecelakaan akibat selip ban depan. Sementara pada tahun 2018, ia harus menerima penalti yang membuatnya finis di posisi kelima, meskipun secara resmi berada di posisi ke-18 karena penalti waktu akibat insiden dengan Rossi.

    Namun, semua itu terlupakan saat Marquez meraih kemenangan terakhirnya di Argentina pada tahun 2019. Memulai dari posisi terdepan, ia langsung melesat dan menciptakan jarak yang signifikan dari pembalap lain. Kecepatan Marquez saat itu sangat mengesankan, dengan catatan waktu yang jauh lebih baik dibandingkan rival-rivalnya.

    Kemenangan tersebut diakhiri dengan momen bersejarah ketika Marquez dan Rossi berjabat tangan di podium. Momen ini menjadi sorotan, mengingat sebelumnya Marquez pernah ditolak saat mengulurkan tangan kepada Rossi dalam konferensi pers.

    Marquez mengungkapkan, “Itu adalah momen yang tepat. Kami berdua sedang sendirian dan berjabat tangan sebelum podium.” Rossi pun mengakui kehebatan Marquez dalam balapan tersebut, menunjukkan sikap sportif meskipun mereka adalah rival.

    Dengan pengalaman dan rekam jejak yang kuat, Marquez siap menghadapi tantangan di MotoGP Argentina 2025. Balapan ini akan berlangsung pada 14-16 Maret 2025, dan para penggemar tentunya menantikan aksi seru dari Marquez serta pembalap lainnya, termasuk murid-murid Rossi yang kini bersaing di kelas atas.

    Semangat dan kompetisi yang ketat di MotoGP Argentina selalu menjanjikan drama dan kejutan, dan kali ini, semua mata akan tertuju pada Marc Marquez dan kemampuannya untuk kembali meraih kemenangan.

     

  • Kilas Balik MotoGP Argentina: Terakhir Kali Marc Marquez Menang, Valentino Rossi Kalah Telak Hingga Mau Salaman

    Kilas Balik MotoGP Argentina: Terakhir Kali Marc Marquez Menang, Valentino Rossi Kalah Telak Hingga Mau Salaman

    Marc Marquez diprediksi masih akan sulit untuk dikalahkan pada seri kedua MotoGP Argentina 2025. Kemenangan telak yang diraihnya di masa lalu memberikan gambaran jelas tentang kemampuannya di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Santiago, Argentina.

    Marquez memiliki rekor yang sangat mengesankan dalam enam penampilannya di GP Argentina antara tahun 2014 hingga 2019. Ia berhasil meraih tiga kemenangan pada tahun 2014, 2016, dan 2019, serta mencatatkan pole position sebanyak lima kali, hanya gagal sekali pada tahun 2018.

    Namun, ada juga momen-momen ketika Marquez tidak berhasil meraih kemenangan di GP Argentina. Pada musim 2015, ia sempat unggul jauh di depan, tetapi Valentino Rossi berhasil mengejar berkat strategi ban yang cerdas. Dalam usaha menyalip, Marquez mengalami insiden yang membuatnya terjatuh dan tidak dapat menyelesaikan balapan.

    Di musim 2017, Marquez kembali mengalami nasib buruk dengan kecelakaan akibat selip ban depan, yang membuatnya tidak dapat melanjutkan balapan. Pada tahun 2018, ia terkena penalti ride through, tetapi berhasil bangkit dan finis di posisi kelima, meskipun secara resmi berada di posisi ke-18 karena penalti waktu 30 detik akibat insiden dengan Rossi.

    Setelah berbagai kegagalan tersebut, Marquez akhirnya meraih kemenangan terakhirnya di Argentina pada tahun 2019. Memulai dari posisi terdepan, ia langsung melesat dan menciptakan jarak 3 detik dalam tiga lap pertama. Kecepatan Marquez tak tertandingi, dengan catatan waktu 1 menit 39 detik yang ia raih sebanyak 14 kali dari total 25 lap.

    Jarak 12 detik tercipta di sisa satu lap antara Marquez dan dua pembalap lainnya, Andrea Dovizioso (Ducati) dan Valentino Rossi (Yamaha). Dovizioso, yang merupakan runner-up kejuaraan, dan Rossi, yang finis di peringkat ketiga klasemen musim sebelumnya, harus pasrah dengan posisi mereka. Rossi akhirnya berhasil menyusul Dovizioso, tetapi finis hampir 10 detik di belakang Marquez, yang melambat di akhir balapan.

    Momen bersejarah terjadi ketika Rossi dan Marquez berjabat tangan di podium setelah balapan. Ini menjadi kejutan, mengingat sebelumnya Marquez pernah ditolak saat mengulurkan tangan kepada Rossi dalam konferensi pers di GP San Marino.

    “Itu adalah momen yang tepat, Anda tahu kan?” kata Marquez dalam jumpa pers menjelang seri berikutnya di Circuit of The Americas. “Saat kita mencium perempuan, sama, di momen yang pas!” candanya. “Kesempatannya ada di sana, dan kami berdua sedang sendirian. Kami berjabat tangan sebelum podium.”

    Rossi pun sepakat dengan pernyataan Marquez tentang momen tersebut. Ia menunjukkan sikap kesatria dengan mengakui performa luar biasa rivalnya. “Saya memberi selamat karena dia menjalani akhir pekan yang sangat cepat, balapan yang sangat cepat. Jadi saya pikir itu hal yang normal,” ungkap Rossi.

    Rossi sendiri memiliki catatan baik di Argentina, dengan kemenangan comeback pada tahun 2015 dan menjadi runner-up di GP Argentina pada tahun 2016, 2017, dan 2019.

    Seri balap MotoGP Argentina 2025 akan berlangsung pada akhir pekan ini, 14-16 Maret 2025. Semangat Rossi akan diteruskan oleh murid-muridnya, seperti Luca Marini (Honda HRC Castrol), Franco Morbidelli (Pertamina Enduro VR46), Marco Bezzecchi (Aprilia Racing), dan Francesco Bagnaia, yang kini menjadi rekan setim Marquez.

     

  • Marc Marquez Merendah dan Sadar Tak Bisa Sombong Jelang MotoGP Argentina 2025

    Marc Marquez Merendah dan Sadar Tak Bisa Sombong Jelang MotoGP Argentina 2025

    Pembalap Ducati, Marc Marquez, mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam mentalitasnya menjelang seri MotoGP Argentina 2025. Awal yang menjanjikan dalam persaingan gelar juara dunia MotoGP 2025 telah ditunjukkan Marquez pada seri pembuka dua pekan lalu.

    Rider yang dijuluki Baby Alien ini tampil dominan bersama tim pabrikan Ducati, berhasil meraih kemenangan di sesi sprint dan balapan utama di GP Thailand. Selain itu, Marquez juga mencatatkan waktu tercepat sebagai pole sitter pada kualifikasi, menambah kesan spektakuler di awal musim ini.

    Performa Marquez di seri pembuka sangat kontras dengan rekan setimnya, Francesco Bagnaia, yang mengalami kesulitan dan hanya mampu finis di posisi ketiga pada sesi sprint dan balapan utama. Kini, peluang Marquez untuk meraih kemenangan kembali terbuka lebar saat ia bersiap menghadapi MotoGP Argentina 2025 akhir pekan ini.

    Namun, meskipun sukses meraih kemenangan, Marquez mengungkapkan pandangannya yang berbeda tentang arti kemenangan. Bagi Marquez, kemenangan di lintasan kini dianggapnya sebagai anugerah dan momen luar biasa, jauh berbeda dari pandangannya lima tahun lalu ketika kemenangan terasa biasa baginya.

    “Lima tahun lalu, sebelum saya mengalami cedera, menang adalah hal yang biasa bagi saya,” ungkap Marquez, seperti dilansir dari Motosan. “Namun, setelah menjalani empat atau lima kali operasi, hari ini saya menilainya sebagai anugerah.”

    Cedera parah yang dialaminya saat masih membela Repsol Honda sempat membuat Marquez berpikir untuk pensiun. Namun, ia mengambil langkah berani dengan bergabung ke Gresini Racing untuk menjalani MotoGP 2024, meskipun kontraknya dengan pabrikan Jepang masih tersisa satu musim. Di Gresini Racing, Marquez berhasil menemukan kembali performa terbaiknya, meski menggunakan motor Ducati versi tahun sebelumnya.

    Sepanjang 20 seri MotoGP 2024, Marquez berhasil meraih 10 podium, termasuk tiga kemenangan. Keputusan beraninya untuk pindah ke Gresini Racing terbukti tepat, dan kini ia kembali berbicara tentang peluang meraih gelar juara dunia setelah direkrut oleh Ducati.

    “Sampai saat itu, saya menjalani balapan yang hebat, dan sekarang saya mendorong diri saya hingga batasnya lagi untuk mencoba membuat peningkatan,” kata Marquez. “Pada musim 2024, saya berhasil melakukan hal tersulit, yaitu kembali dan menang bersama Gresini Racing setelah semua cerita patah tulang itu.”

    Tak bisa dipungkiri, pengalaman dan trauma akibat cedera membuat Marquez kini bersikap lebih dewasa. Ia pun merasa lebih tenang menjelang MotoGP Argentina 2025. “Ketika saya berusia dua puluhan, saya siap untuk jatuh beberapa kali hanya untuk bisa melaju secepat mungkin,” ujarnya. “Setelah mengetahui apa artinya cedera, saya menghadapinya dengan tenang. Mengambil risiko di lintasan, yang merupakan pekerjaan saya, kini terasa lebih baik.”

     

  • Line Up Yamaha Racing Indonesia 2025: Aldi Satya Mahendra Bergabung

    Line Up Yamaha Racing Indonesia 2025: Aldi Satya Mahendra Bergabung

    Musim 2025 menjadi momen baru bagi tim Yamaha Racing Indonesia untuk berkompetisi di berbagai kejuaraan internasional, baik di tingkat dunia maupun Asia.

    Pada Selasa, 11 Maret 2025, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) mengumumkan susunan pembalap yang akan memperkuat tim di tahun ini. Dalam lineup tersebut, terdapat enam pembalap yang akan berlaga di tiga ajang internasional, yaitu:

    • World Supersport: Aldi Satya Mahendra
    • R3 BLU CRU World Cup: Arai Agaska Dibani Laksana
    • Asia Road Racing Championship: Wahyu Nugroho & Muhammad Faerozi T (SS600), Candra Hermawan & Fadil Al Gassani (AP250)

    Perjuangan para pembalap Yamaha Racing Indonesia telah dimulai dengan seri pembuka World Supersport yang berlangsung pada 21-23 Februari di Sirkuit Phillip Island, Australia. Aldi Satya Mahendra berhasil meraih poin perdana dalam debutnya, yang semakin menambah kepercayaan dirinya setelah menjadi juara dunia World Supersport 300 pada tahun 2024.

    Bergabung dengan Yamaha BLU CRU Evan Bros Team, Aldi akan menjalani 11 seri lagi hingga pertengahan Oktober mendatang.

    Yamaha Racing Indonesia juga terus berkomitmen dalam pembinaan karir para pembalapnya. Arai Agaska, yang sebelumnya menunjukkan kualitasnya di kelas AP250 Asia Road Racing Championship (ARRC) 2024, kini diberi kesempatan untuk tampil perdana di R3 BLU CRU World Cup, kejuaraan yang selalu diikuti oleh para pembalap Yamaha.

    Di tingkat Asia, empat pembalap Yamaha Racing Indonesia siap bersaing di Asia Road Racing Championship (ARRC). Di kelas Supersport 600 (SS600), terdapat Wahyu Nugroho dan Muhammad Faerozi T, sementara di kelas Asia Production 250 (AP250), Candra Hermawan dan Fadil Al Gassani akan menjadi wajah baru tim.

    Candra Hermawan sebelumnya tampil sebagai pembalap wild card di ARRC 2024 di seri Mandalika dan Sepang. Sementara itu, Fadil Al Gassani, yang merupakan juara bLU cRU R15 Junior Pro di Yamaha Sunday Race 2024, mendapatkan kesempatan untuk berlaga di kelas AP250 ARRC 2025.

    “Musim balapan 2025 adalah lembaran baru bagi kami untuk berkompetisi di berbagai ajang, dan tim Yamaha Racing Indonesia akan kembali tampil di kejuaraan dunia dan Asia,” ungkap Johannes B.M.S, Assistant General Manager CS Division PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), dalam siaran resmi.

    “Line up musim 2025 ini diisi oleh para pembalap muda berbakat yang telah terbukti sebagai juara dunia, serta berpengalaman di level Asia dan nasional. Kami berkomitmen untuk terus melakukan pembibitan dan pembinaan agar para pembalap dapat meraih prestasi dan merasakan pengalaman lebih dalam perjalanan karir balapan mereka.”

    Johannes berharap pencapaian optimal dapat diraih di tahun 2025 dengan menggunakan motor-motor unggulan Yamaha yang memiliki DNA Racing yang kuat, serta membanggakan Indonesia di kancah internasional.

    Para pembalap Yamaha Racing Indonesia juga menyatakan kesiapan mereka untuk bersaing di kejuaraan yang diikuti, meskipun persaingan semakin ketat dengan lawan-lawan dari negara lain.

    “Terima kasih kepada Yamaha Indonesia dan para sponsor yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk naik kelas di balapan tahun ini,” kata Aldi Satya Mahendra. “Setelah menjuarai World Supersport 300 tahun 2024, saya semakin termotivasi untuk menghadapi tantangan di World Supersport 2025.”

    “Saya siap secara fisik dan mental untuk mendukung upaya meraih target bersama Yamaha Indonesia dan Yamaha BLU CRU Evan Bros Team. Adaptasi yang cepat dengan motor R9 dan kerjasama yang baik dengan tim semakin menambah kepercayaan diri saya dalam menjalani musim 2025 ini.”